Masuk UIN? Emang kuat belajar Islamnya?
Masuk UIN? Emang kuat belajar Islamnya? Ya, itulah beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada saya saat memberitahu orang-orang tentang kabar masuknya saya di UIN Syarif Hidayatullah. Saya mungkin akan sedikit menceritakan kenapa alasan saya masuk UIN dengan jujur dan tanpa rekayasa. Saya berasal dari SMAN 2 Bogor, yaa sebuah sekolah yang bagus di Kota Hujan. Sejak SMA, pengetahuan saya tentang Islam begitu minim karena faktor pergaulan yang tidak selaras dengan nilai-nilai keislaman. Saat pemilihan Universitas di UTBK saya memilih Universitas Padjajaran dengan jurusan Humas dipilihan pertama, dan UIN Syarif Hidayatullah jurusan Kesejahteraan Sosial dipilihan kedua. Kenepa memilih UIN? tidak lain dan tidak bukan ialah karena itu Universitas Negeri yang jika saya pilih itu, kesempatan untuk masuknya lumayan besar. Sempat ingin mencoba ke UPN Jakarta atau Universitas Negeri Jakarta tetapi apalah daya saya tidak percaya diri untuk masuk kesana karena peminat yang membeludak di 2 Universitas tersebut.
Saya memberanikan diri untuk mendaftar di Kessos UIN Syarif Hidayatullah karena saya berpikir bahwa jurusan tersebut berada diranah FISIP. Karena pada umumnya jurusan Kesejahteraan Sosial berada di FISIP. Dan hari pengumuman SBMPTN pun tiba, dan yaa saya diterima di Kessos UIN Syarif Hidayatullah atau biasa yang disebut UIN Jakarta. Saya senang bukan main, bukan karena diterima di UINnya, tetapi saya sudah memiliki pegangan Universitas yang akan saya singgahi. Seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa Kessos UIN Jakarta berada di dalam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang biasa disingkat FDIKOM. Yang berarti, mata kuliah saya pasti akan kecipratan tentang pelajaran pelajaran Islam dan benar saja disini saya berlajar mata kuliah Tasawuf, Fiqih, Qiroah, Dakwah, dll yang bahkan belum pernah saya dengar di bangku SMA.
Minggu pertama sampai ketiga merupakan minggu tersulit yang saya lalui. Itu semua dikarenakan oleh Culture Shock yang saya alami dari SMAN yang notabenenya hanya belajar pelajaran-pelajaran umum seperti sosiologi, matematika, ekonomi, sejarah menuju Universitas "Islam". Minggu-minggu pertama saya serasa seperti seorang mualaf yang tidak mengerti apa-apa tentang Islam. Apa yang saya pelajari sewaktu bangku sekolah, ternyata itu hanyalah gerbang pintu menuju Islam yang sesungguhnya. Tetapi dengan hal tersebut membuka pikiran saya tentang Islam, rasa ingin tahu saya tentang Islam semakin memuncak. Alhasil, setiap hari saya sering menonton video-video dakwah para ulama-ulama hebat seperti Ustad Abdul Somad, Ustad Adi Hidayat, Ustad Khalid Basamalah dan lain-lain.
Diawal masuk Kessos UIN Jakarta saya merasa "kecebur". Tetapi hal itu sirna ketika saya merasa bahwa didalam dunia Kessos, memang harus diselingin dengan nilai-nilai keislaman. Kenapa saya berpendapat seperti itu, karena kemanusiaan itu selaras dengan nilai-nilai agama. Seperti contoh, didalam Al-Qur'an maupun hadist, banyak sekali perintah untuk saling menolong, saling membantu, ramah kepada orang tua dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa didalam Agama pun diatur tentang kemanusiaan. Didalam Islam diatur mengenai Hablum Minallah dan Hablum Minannas. Menurut saya 2 point tersebut seperti 2 sudut 90 derajat. Garis tegak merupakan hubungan kita dengan Tuhan YME, dan garis landai merupakan hubungan kita dengan sesama manusia.
Comments
Post a Comment